Liga Bola Basket ASEAN Diluncurkan di Manila

13 September 2009

Liga Bola Basket ASEAN atau ASEAN Basketball League (ABL) resmi diluncurkan di Hotel Renaissance, Manila, Filipina, Selasa (1/9) siang.

Kompetisi antarklub bola basket pertama di ASEAN itu diikuti enam klub dari enam negara, yakni Satria Muda Britama (Indonesia), Philippine Patriots (Filipina), The Barracudas (Brunei Darussalam), Kuala Lumpur Dragons (Malaysia), Singapore Slingers (Singapura), dan Thailand Tigers (Thailand).

Mereka akan bertanding dalam format laga kandang dan tandang, di mana dua tim saling bertanding tiga kali. Empat tim teratas tampil pada playoff atau putaran final Empat Besar (Final Four).

Pertandingan Liga Bola Basket ASEAN akan berlangsung hari Sabtu dan Minggu. Saat tip-off tanggal 10 Oktober mendatang, Satria Muda akan menjamu Philippine Patriots di Stadion The BritAma Arena, Jakarta. Putaran final atau babak Final Four ditetapkan berlangsung di Malaysia. Menurut aturan, setiap klub diperbolehkan merekrut lima pemain asing, tiga di antaranya berasal dari kawasan ASEAN.

Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) Erick Thohir menyatakan, Liga Bola Basket ASEAN bakal menciptakan standar kompetisi tinggi yang membuat klub-klub di kawasan Asia Tenggara bisa bersaing dengan klub-klub dari kawasan lain di Asia. Saat ini, lanjut Erick, ada dua ajang bola basket di ASEAN, yakni kejuaraan SEABA antarnegara dan SEABA antarklub.

Chairman ABL Dato Tony Fernandes menyebut bahwa Liga Bola Basket ASEAN juga menerapkan pembatasan gaji (salary cap) bagi pemain asing maksimal 10.000 dollar AS atau sekitar Rp 100 juta per bulan untuk satu pemain.

Meski diikuti klub-klub dari berbagai negara ASEAN, Liga Bola Basket ASEAN tidak mensyaratkan bagi klub peserta harus menjuarai liga di masing-masing negara asalnya. Klub-klub bola basket itu bisa tampil di Liga Bola Basket ASEAN jika membeli franchise dan memiliki uang garansi di bank (guarantee bank).

Hasani Abdulgani, Presiden Direktur Mahaka Sports, yang membawahi Satria Muda, menyebut harga franchise itu 200.000 dollar AS (Rp 2 miliar) per tahun dan uang garansi di bank sebesar 1 juta dollar AS (Rp 10 miliar).

(kompas.com)


Saya Bukan Pengurus PERBASI DIY, Tetapi Saya Mencoba Untuk Menyelamatkan Domain Ini Dari Orang Yang Tidak Bertanggung Jawab

===Maju Basket Yogyakarta===

Seputar Lahirnya Perbasi

Dalam tulisan pertama, kita telah membaca muasal olahraga bola basket yang ternyata berangkat dari eksperimentasi serba kebetulan di sebuah sekolah di Amerika. Kini, kita coba menelisik bagaimana olahraga ini masuk ke Indonesia hingga terbentuk organisasi persatuan bola basket seluruh Indonesia (Perbasi) dan berkembang pesat sampai hari ini.

Saya telah membuka sejumlah referensi, namun tidak satu pun yang menyebutkan secara definitif tokoh pembawa, kapan dan bagaimana olahraga ini ke tanah air. Informasi yang terkumpul banyak menyebutkan, pada masa penjajahan Belanda, para muda-mudi bule diketahui sering bermain bola keranjang atau korfball, yang mirip bola basket. Namun olahraga ini tidak turun ke masyarakat karena adanya factor psikologis antipati terhadap permainan penjajah. korfball hilang sama sekali dari ingatan bersamaan dengan hengkangnya mereka dari tanah air. Saya yakin, generasi muda, termasuk olahragawan kita, tidak mengenal korfball. Saya sendiri tidak pernah melihat korfball dimainkan, kecuali hanya dari bacaan saja.

Sebuah penghampiran sejarah masuknya basket ke tanah air menyebutkan, basket masuk bersamaan dengan kedatangan pedagang dari Cina menjelang kemerdekaan. Menurut saya, penghampiran ini masuk akal, sebab Cina sendiri lebih dulu mengenal bola basket ketimbang rakyat Indonesia. Tepatnya, sejak 1894, bola basket sudah dimainkan orang-orang Cina di Provinsi Tientsien dan kemudian menjalar ke seluruh daratan Cina. Mereka yang berdagang ke Indonesia adalah kelompok menengah kaya yang memilih olahraga dari Amerika itu sebagai identitas kelompok Cina modern.

Pendapat ini diperkuat fakta menjelang dan pada awal kemerdekaan klub-klub bola basket di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, DI Yogyakarta, dan Surabaya sebagian besar tumbuh dari sekolah-sekolah Cina. Di Semarang, misalnya, pada 1930 ada klub bernama Chinese English School, Tiong Hoa Hwee, Fei Leon Ti Yu Hui, atau Pheng You Hui yang kemudian dikenal dengan nama Sahabat. Dari klub itu pula kemudian lahir salah seorang pemain legendaris Indonesia, Liem Tjien Siong yang kemudian dikenal dengan nama Sonny Hendrawan (Pada 1967 Sonny terpilih sebagai Pemain Terbaik pada Kejuaraan Bola Basket Asia IV di Seoul, Korsel. Waktu itu, tim Indonesia menduduki peringkat ke-4 di bawah Filipina, Korea, dan Jepang).

Keajaiban dunia basket tertoreh pada masa-masa awal kemerdekaan. Meski belum memiliki organisasi, pada 1948, ketika Negara Indonesia menggelar PON I digelar di Solo, bola basket, sudah menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Ini membuktikan bahwa basket cepat memasyarakat dan secara resmi diakui Negara.

Tiga tahun kemudian, Maladi sebagai Sekretaris Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang kemudian menjadi Menteri Olahraga, meminta Tonny Wen dan Wim Latumeten untuk membentuk organisasi bola basket. Ini bukan pekerjaan gampang, sebab sebelumnya orang-orang katurunan Tionghoa yang lebih dulu melek basket sudah punya bond sendiri dan belum tertarik bergabung. Namun akhirnya karena tuntutan kebutuhan untuk menyatukan organisasi basket, disepakati pembentukan Persatuan Basketball Seluruh Indonesia pada 23 Oktober 1951, disingkat Perbasi. 

Istilah basketball yang masih berbahasa Inggris kemudian di Indonesiakan pada 1955, menjadi Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) dan pemerintah menetapkannya sebagai satu-satunya organisasi yang menaungi seluruh kegiatan perbolabasketan di tanah air. Pemerintah juga meminta seluruh komponen bangsa bersatu padu dalam payung organisasi ini, termasuk bond Cina yang sebelumnya sudah berdiri kuat sebagai organisasi basket komunitas.

Sejak, Indonesia memiliki organisasi resmi yang mengurus olahraga bola basket. Perbasi menganut sistem vertikal berjenjang, yang dimulai dari tingkat perkumpulan, pengurus cabang (pengcab) Perbasi, pengurus daerah (pengda) Perbasi, sampai kepada pengurus besar (PB) Perbasi. Saat ini, kepengurusan PB Perbasi sebagai Ketua Umum Ibu Noviantika Nasution, M.Si dan saya sendiri sebagai sekjen.


Oleh:
Dahlan Muhammad, Sekjen PB Perbasi






















Saya Bukan Pengurus PERBASI DIY, Tetapi Saya Mencoba Untuk Menyelamatkan Domain Ini Dari Orang Yang Tidak Bertanggung Jawab
===Maju Basket Yogyakarta===

Menengok Jejak Basket

Di Indonesia, Bola Basket tergolong olahraga kalangan menengah ke atas. Namun belakangan sudah menjadi salah satu cabang olahraga paling favorit di kalangan muda dan sudah menyebar hingga ke desa-desa. Hal ini karena di sebagian besar sekolah (SMP dan SMU, bahkan kampus-kampus) cenderung membangun lapangan bola basket, menggantikan lapangan kasti di era 1980-an atau bola volly di era 1990-an.

Meluasnya olahraga ini karena mudah diperagakan dan sedikit bercitra intelek. Dalam aturan mainnya, akan tampak tidak saja mengandalkan pasokan energy yang melimpah, namun juga integensia yang tinggi.

Bagaimana awalnya olahraga ini muncul di permukaan bumi? Menurut sejumlah catatan sejarah, basket diciptakan secara tidak sengaja. Ceritanya, pada tahun 1891, Dr. Luther Gullick, guru olahraga pada Sekolah Guru Pendidikan Jasmani di Young Mens Christian Association (YMCA - sebuah wadah pemuda umat Kristen) di Springfield, Massachussetts, Amerika, gerah melihat anak didiknya mulai malas mengikuti kegiatan senam. Ia kemudian minta guru agama (pastor) Dr. James Naismith, teman sejawatnya di YMCA, untuk membuat suatu permainan di ruang tertutup untuk mengisi waktu para siswa pada masa liburan musim dingin di New England.

Naismith kemudian merenung dan tiba-tiba ingat sebuah permainan di masa kecilnya di Ontario, Kanada. Ia ingin permainan yang menarik dan gampang dipelajari. Saat itu permainan sepak bola memang digemari, namun cenderung “kasar” karena pemain berebut memasukkan bola ke gawang dengan tendangan. Ia kemudian mengambil beberapa unsur sepak bola seperti berlari-lari sembari menjinakkan gerakan bola. Agar tidak terjadi tendang-menendang, bola harus dibawa dengan dribble atau dioper kepada orang lain. Dan, sebagai sebuah permainan, dibuatlah sasaran yang sempit dan letaknya lebih tinggi dari para pemain sehingga adu kekuatan menjadi minimal dan yang lebih menonjol justru unsur kecepatan dan ketepatan.

Awalnya banyak yang menolak ide permainan ini. Namun tidak henti ia mendemonstrasikan ke lingkungannya. Kepada Stebbin, Kepala Urusan Rumah Tangga di gymnasium YMCA, Naismith minta dicarikan sebuah kotak dari peti kayu sebagai sasaran. Setelah mencari ke sana kemari, Stebbin tidak menemukan kotak kayu yang dimaksud. Akhirnya, Stebbin mengambil keranjang buahnya sebagai titik sasaran.

Setelah dipasang agak tinggi, Naismith setuju dan langsung memperagakan permainannya. Stebbin pun ikut melempar bola, mencoba memasukkannya ke dalam keranjang. Oleh karena keranjang buahnya berada di atas, setiap kali masuk, Stebbin harus memanjat untuk mengambil kembali bola. Setelah lelah naik turun, akhirnya bagian bawah kerajang buah itu dilobangi agar bola yang masuk langsung jatuh, dan jadilan seperti keranjang seperti saat ini.

Kejadian itu terjadi pada 15 Desember 1891. Sejak itu pula Naismith membari nama permainan yang masih dalam proses penciptaannya itu dengan sebutan basketball, atau bola basket. Setelah itu, seiring perjalanan waktu, Naismith pun terus menyempurnakan konsep, lengkap dengan peraturan-peraturannya. James Naismith menciptakan 13 aturan dasar permainan,yaitu:

  1. Bola dapat dilemparkan ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan.
  2. Bola dapat dipukul ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan, tetapi tidak boleh dipukul menggunakan kepalan tangan (meninju).
  3. Pemain tidak diperbolehkan berlari sambil memegang bola. Pemain harus melemparkan bola tersebut dari titik tempat menerima bola, tetapi diperbolehkan apabila pemain tersebut berlari pada kecepatan biasa.
  4. Bola harus dipegang di dalam atau diantara telapak tangan. Lengan atau anggota tubuh lainnya tidak diperbolehkan memegang bola.
  5. Pemain tidak diperbolehkan menyeruduk, menahan, mendorong, memukul, atau menjegal pemain lawan dengan cara bagaimanapun. Pelanggaran pertama terhadap peraturan ini akan dihitung sebagai kesalahan, pelanggaran kedua akan diberi sanksi berupa pendiskualifikasian pemain pelanggar hingga keranjang timnya dimasuki oleh bola lawan, dan apabila pelanggaran tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencederai lawan, maka pemain pelanggar akan dikenai hukuman tidak boleh ikut bermain sepanjang pertandingan. Pada masa ini, pergantian pemain tidak diperbolehkan.
  6. Sebuah kesalahan dibuat pemain apabila memukul bola dengan kepalan tangan (meninju), melakukan pelanggaran terhadap aturan 3 dan 4, serta melanggar hal-hal yang disebutkan pada aturan 5.
  7. Apabila salah satu pihak melakukan tiga kesalahan berturut-turut, maka kesalahan itu akan dihitung sebagai gol untuk lawannya (berturut-turut berarti tanpa adanya pelanggaran balik oleh lawan).
  8. Gol terjadi apabila bola yang dilemparkan atau dipukul dari lapangan masuk ke dalam keranjang, dalam hal ini pemain yang menjaga keranjang tidak menyentuh atau mengganggu gol tersebut. Apabila bola terhenti di pinggir keranjang atau pemain lawan menggerakkan keranjang, maka hal tersebut tidak akan dihitung sebagai sebuah gol.
  9. Apabila bola keluar lapangan pertandingan, bola akan dilemparkan kembali ke dalam dan dimainkan oleh pemain pertama yang menyentuhnya. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang kepemilikan bola, maka wasitlah yang akan melemparkannya ke dalam lapangan. Pelempar bola diberi waktu 5 detik untuk melemparkan bola dalam genggamannya. Apabila ia memegang lebih lama dari waktu tersebut, maka kepemilikan bola akan berpindah. Apabila salah satu pihak melakukan hal yang dapat menunda pertandingan, maka wasit dapat memberi mereka sebuah peringatan pelanggaran.
  10. Wasit berhak untuk memperhatikan permainan para pemain dan mencatat jumlah pelanggaran dan memberi tahu wasit pembantu apabila terjadi pelanggaran berturut-turut. Wasit memiliki hak penuh untuk mendiskualifikasi pemain yang melakukan pelanggaran sesuai dengan yang tercantum dalam aturan 5.
  11. Wasit pembantu memperhatikan bola dan mengambil keputusan apabila bola dianggap telah keluar lapangan, pergantian kepemilikan bola, serta menghitung waktu. Wasit pembantu berhak menentukan sah tidaknya suatu gol dan menghitung jumlah gol yang terjadi.
  12. Waktu pertandingan adalah 4 quarter masing-masing 10 menit.
  13. Pihak yang berhasil memasukkan gol terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang.

Sambil menulis konsep aturan main, ia juga meminta para siswa untuk mempraktikkan dengan menempelkan keranjang pada sebuah dinding. Sebulan kemudian, Naismith berhasil menyempurnakan permainan ini. Maka, pada tanggal 20 Januari 1892, permainan ini secara resmi untuk pertama kalinya digelar dan oleh salah seorang murid YMCA disebut "Basket ball" atau bola basket.

Sejak itu, "Basketball" sangat popular di Amerika dengan pertandingan demi pertandingan digelar di berbagai Negara bagian. Pada Agustus 1936, saat menghadiri Olimpiade Berlin 1936, ia dinobatkan sebagai Presiden Kehormatan Federasi Bola Basket Internasional. Naismith meninggal dunia 28 November 1939, ketika olahraga ciptaannya sudah menjadi favorit dunia internasional.

Permainan yang sederhana namun memerlukan ketangkasan ini merambah Eropa, Asia dan masuk ke tanah air dengan cepat. Di Indonesia, setelah menjadi olahraga masyarakat, pada tahun 1951 kemudian dibentuk organisasinya, yaitu Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia atau Perbasi yang kantor pusatnya berada di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan.


Oleh:
Dahlan Muhammad, Sekjen PB Perbasi






















Saya Bukan Pengurus PERBASI DIY, Tetapi Saya Mencoba Untuk Menyelamatkan Domain Ini Dari Orang Yang Tidak Bertanggung Jawab
===Maju Basket Yogyakarta===

 
 
 
 
Copyright © PERBASI DIY